MENCIPTAKAN TOPENG
Karunia Rahmatika
Pendar langit membuncah mengeluarkan semua kecantikkannya, memamerkan yang ia miliki pada seorang perempuan di bangku kuning yang sendirian. Birunya langit pagi itu memenangkan pertarungan dengan awan-awan yang juga ingin memperlihatkan kesenduannya. Rusuh burung perkutut saling berpautan seperti bersitegang tentang keinginan siapa yang lebih dulu terbang tinggi. Perempuan itu sedang bercumbu nikmat dengan kesunyian, mempersiapkan diri untuk memulai peraduannya perlahan disebuah muara yang tidak pernah ia mimpikan sebelumnya. Sebuah takdir yang sudah Tuhan persiapkan untuknya. Ia tengah membuat topeng paling cantik yang kelak akan ia kenakan, untuk menjalani hari-hari di muara hidupnya.
Pun pada sebuah muara itu, bukan berarti tidak pernah ia inginkan, hanya saja jarak yang saat ini ditapakinya terlampau jauh untuk tetap menapak di muara barunya. Ia pun tahu, perjalanan yang sangat panjang sebentar lagi akan ia tempuh, meski seharusnya ia sudah memulainya jauh berbulan-bulan lalu. Tapi bukannya terlambat sedikit lebih banyak tidak masalah, dari pada hanya terus diam dalam zona nyaman yang lama kelamaan juga menyeramkan?
“Suatu saat aku bisa berada di antara mereka, yang penting topengku sudah jadi.” Bisiknya perlahan pada sebuah raga yang ia singgahi, ketika memandang barisan manusia yang berjalan dengan tawa, dan saling menyembunyikan luka.
~~~~
“Jenar, kenapa kamu seperti ini? Amanah dong kalo sudah menyanggupi tugas yang dijalankan.” Ujar seorang kawan disuatu pertemuan rapat besar malam itu.
Seketika Jenar tertohok, namun tetap memaksa untuk tidak peduli. Ia bersikeras untuk melanjutkan melamunnya, menikmati kesendirian di tengah keramaian manusia yang sedang berdebat mempermasalahkan harga snack konsumsi untuk peserta LKTI. Memang benar. Ia tidak pernah benar-benar peduli dengan apapun masalah atau solusi yang mereka buat sendiri. Saling unjuk tangan demi tersampaikannya kata-kata di dalam otak, yang mana sangat diharapkan dapat dipakai. Saling tepuk tangan apabila pertemuan selesai dini hari.
‘Mereka tepuk tangan karna rapat menghasilkan, atau k arna akhirnya selesai dan setelah ini bisa rebahan?’ Gumamnya dalam hati.
Jenar sangat bingung, pertama kali ia merasa menjadi orang paling bodoh. Kata-kata yang mereka sampaikan di forum itu begitu asing, Megaphone, backdrop, micwereless, checking akhir, apa itu! Kita orang Indonesia, kenapa tidak gunakan saja bahasa kebangaan dengan baik dan benar. Padahal apabila forum sudah selesai, Jenar kembali bisa mengerti bahasa mereka.
“Ayo abis ini makan, tapi aku ambil uang dulu ya.”
“Kalo rapat itu jangan kentut terus ih! Kebiasaan deh kamu.”
Beragam kata-kata dari mulut mereka, ramai menggema. Mengganggu pohon-pohon di depan koridor kampus yang sudah mencoba terlelap. Disudut lingkaran manusia, Jenar biasa saja menyambut berakhirnya cengerama malam itu. Ia hanya berkemas, dan baru beranjak berdiri apabila Lana mengajak pergi.
“Mengubah watak memang sulit, tapi kamu harus. Lihat dong yang lain sudah berjalan jauh di depan kamu” Yang ini adalah kalimat paling menohok.
Benar. Benar sekali apa yang diucapkan dia, suatu ketika saat lima orang tengah berkumpul tegang, membahas nasib mereka yang diujung tanduk apabila antara anggota tidak juga unjuk kekompakkan. Hal ini karna Jenar merasa masih sangat asing di tempat ini, tidak tahu yang lain. Dan yang ia bingungkan, ia tak pernah mengerti mengapa keadaan dirinya bisa jadi semenyedihkan ini. Apa mungkin, hanya ia yang paling menyedihkan. Atau, masih ada orang sepertinya sekarang ini, disini. Tapi sepertinya tidak. Jenar seorang pengamat handal, ia sering mencuri mata para manusia yang terlihat oleh matanya. Apa saja yang terlihat ia amati. Pakaian mereka, gaya berjilbab, gaya bicara, dan gaya mereka menyambut perkataan seseorang. Bahkan tatapan mata pun ia pahami. Berkat itu, terkadang ia sering mendengar beberapa teman yang tengah bergosip tentang seseorang, lalu Jenar dengan mudah bisa langsung mengerti arah pembicaraan. Entah angin dari mana, Jenar yang enggan banyak bicara dengan para manusia itu, tidak bisa menyembunyikan pengetahuan yang ia punya, jadi seketika ia lupa bahwa ia sedang tidak berada di dunianya.
“Betul, aku juga tahu. Dia memang orangnya seperti itu, kelihatan banget kok.”
Pasar ramai yang sedang berlangsung tiba-tiba saja sepi, seperti pasar ketika penjual dan pembeli sudah pulang ke rumah sendiri-sendiri. Hanya tinggal bumbu gosip yang tersisa sedikit, tinggal menunggu lenyap dimakan angin di suasana dingin.
“Lho kok kamu tau semuanya si. Aku jadi takut deh, kamu siapa si?”
“Hahahahaha” Tanggapan Sewasih, diikuti tawa renyah mereka, seakan tidak sadar, tawa itu semakin mengundang kemantapan Jenar untuk tidak menyukai suasana baru.
“Eh, jangan gitu kasian tau.”
‘Bodoh, harusnya diam saja. Jadi canggung kan.’ Penyesalan seribu rupa alang kepalang menerpa jiwanya apabila hal ini baru saja terjadi.
Banyak teman-teman forum menganggap rikuh Jenar, kaku, dan sangat pendiam. Pasti sangat berbeda dengan mereka. Memang benar. Hal ini pun nyata dirasakan Jenar. Namun setidaknya, Jenar ingin sekali mendengar hal itu dari mulut mereka sendiri, bukannya mulut hati Jenar. Setiap kali ia merasakan kehadiran seseorang yang dirasa tidak dapat menyambut kehadirannya, atau menganggap ia perempuan yang demikian tadi, hati Jenar selalu spontan menolak. Tidak! Itu bukan aku! Lalu buntu, dan pada akhirnya menyalahkan waktu yang terlalu terburu-buru. Pernah beberapa kali Jenar benar-benear berharap, ada temannya yang mampu curiga, mengapa ia bisa sependiam itu. Penasarannya sempat dikabulkan, meski hanya dalam bentuk bunga tidur.
“Mau sampai kapan kamu malu untuk bertanya kalau ada hal yang tidak kamu tahu? “
Ujaran yang kesekian, perihal ungkapan mereka yang sudah mengerti dengan Jenar, perihal Jenar yang tidak pernah benar-benar bisa dimengerti. Jangankan raga lain, raga yang ditumpangi jiwa Jenar pun ikutan bingung mengapa dia menjadi Jenar dengan wujud baru, dan ia sangat malu. Padahal, IP Jenar tergolong lumayan selama beberapa semester, yang tentu saja itu mampu ia peroleh dengan penuh perjuangan. Mengerjakan tugas pribadi yang selalu jauh-jauh hari, melahap habis tugas kelompok yang selalu dibuatnya tertohok. Namun mengapa hal ini tidak serupa diterapkan dalam dunia baru itu.
“Jenar sendiri yang mau bergabung dengan kita, dan sadar betul tugas-tugas kita kedepannya, tapi kenapa dia selalu lalai akan tugasnya! Atau, jangan-jangan dia Cuma berharap ketenaran?”
“Ketenaran apanya, bahkan di keanggotaan saja banyak yang tidak kenal dia hahaha”
Tentu saja percakapan itu tidak benar-benar terlontar dari mulut orang-orang Jenar. Hanya sekadar pikiran paling kotor yang sengaja ia buat-buat. Setelah sekian lama, semua bualan itu tidak pernah dengan sempurna dan sengaja mendarat di gendang telinga si objek perbincangan. Jadi, lagi-lagi Jenar hanya dapat melihat mereka berbicara lewat tatapan mata.
~~~
“Alhamdulilah, topengku sudah jadi.” Jenar girang, mengagetkan dua burung kecil yang sedang berduaan di senyapnya taman. Berhenti menghentikan diam yang rela mengalah demi Jenar yang kali ini benar-benar sungguh-sungguh, ingin mengerti bagaimana cara berjalan di muara terbarunya. Ia senang sekali, sudah menjahit topeng paling cantik dan tidak sabar segera memakainya. Jenar merasa topengnya menjadi rupa dirinya yang paling apa adanya, tanpa unsur munafik dalam gestur wajah, meski topeng itu lebih cantik dari wajah aslinya. Penuh daya juang ia merangkai gambaran topeng, harus diam berjam-jam menelusuri kesakitan, kebencian, kemunafikkan, sedikit sekali kesenangan yang mana pun ia peroleh saat tengah sendirian, dalam sebuah dunia yang tidak pernah ia pijak sebelumnya, diam, tidak bergerak jauh, tanpa melesat seperti kebanyakan agar menjadi sebuah prestasi. Meski harus sedikit mencaci keadaan yang tidak pernah berpihak padanya. Sebenarnya sederhana keinginannya. Dihargai. Sebab ia akan sangat sudi menghargai orang paling dibencinya sekalipun asalkan dia pandai menyembunyikan ketidaksukaanya pada Jenar.
‘Sejatinya aku sama seperti kalian, percayalah. Tolong jangan anggap aku ini berbeda.’ Gumamnya lirih, perih, sampai air mata sudah tak mampu menahan perasaan yang ringkih. Perasaan tertekan yang menggunung karna tiada pernah ditebang, jadi akibatnya selalu bisa dipandang orang-orang.
“Jenar! Ternyata kamu disini. Ayo, makan lapar nih.” Seru sebuah suara yang mengakhiri rasa syukur Jenar atas keberhasilannya membuat topeng pagi itu.
“Eh Lana, oke yuk aku pun sangat lapar.”
Jenar meninggalkan bangku kuning, mengucapkan selamat tinggal dan selamat, karna telah menjadi saksi bisu atas kemenangannya melawan keadaan rumit. Mereka berjalan berdua, menuju warung makan murah meriah, diiringi biru cerah yang turut bahagia pada akhrinya Jenar berani memulai hari sesungguhnya di muara barunya. Tanpa rasa takut apa yang terjadi kedepannya, ia merasa sangat siap sekalipun saat itu juga Lana membuka percakapan tentang penasaran pandangan teman-teman kepadanya.
“Nar, kamu keliatan beda sekali. Tampak percaya diri.” Pecah Lana akhirnya.
“Gitu dong, kalau jalan wajahnya ditegakkan. Kan aku jadi suka lihatnya.” Lanjut Lana, masih memuji kecantikkan topeng Jenar.
Di dalam warung, penuh bangku-bangku dengan manusia yang sepertinya tidak asing oleh Jenar. Benar saja, saling berjejer dan berhadapan teman-temannya, menikmati nasi goreng termurah dan ternikmat di jagat kampus. Lana menyilakan Jenar duduk disebelahnya. Namun, mereka yang tengah asik ramai bincang, berubah lengang saat Jenar duduk, persis meletakkan pantanya ke badan bangku. Jenar tidak peduli lagi.
“Silakan lanjutkan makan kalian. Mang, nasi goreng nggak pedes satu, sama es teh ya.” Ujarnya dengan senyum terlebar, yang baru pernah ia persembahkan untuk mereka.
Denting sendok saling bertautan, tidak seirama namun membentuk sebuah nada, seolah menyambut kehadiran Jenar dengan topeng barunya. Suasana kembali hangat di antara mereka. bahkan Jenar terkejut, tidak yakin. ‘Sejak kapan aku bisa nyaman berada di antara mereka. Tanpa merasa takut, sama sekali.’
“Jenar, yang banyak dong makannya. Biar cepet gede, nggak kaya anak smp lagi hahaha.” Kalimat renyah Surya, memecah keheningan yang sejenak tercipta.
“Jangan lah, gini aja terus biar awer muda.” Balas Jenar, sambil mengunyah nasi goreng panas di mulutnya.
“Hahahaha lucu juga kamu, ya.” Renyah suara tawa di warung sederhana, mengundang kehangatan dan keinginan agar lebih merapat.
“Jenar, kamu kalau ada apa-apa yang masih bingung, minta bantuan aja ke kita. Jangan diem aja kita kan jadi bingung. Kita belajar bareng-bareng. Mau ngomel nggak enak. Betul nggak?” Ujar Riana mantap tanpa ada lagi rasa rikuh kepada Jenar.
“Iya iya. Hehehe. Eh aku mau Tanya dong. Apa makna merdeka bagi kalian?” Tanya Jenar sungguh-sungguh, tiba-tiba sembari menatap satu-satu mata mereka.
“Ah, kamu. Mentang-mentang baru 17 Agustusan nih bahasannya merdeka mulu ckck.”
“Menurut kamu sendiri, apa Nar?” Ujar Lana yang justru bertanya balik pada si penanya.
“Kalau aku, merdeka berarti berhasil keluar dari zona nyaman, dan lupa kalau yang tengah aku pijaki ini adalah zona tidak nyaman.” Jawab Jenar lancar, mengundang kesunyian. Mereka berpikir apa makna jawaban Jena yang lancar sekali, Nampak sudah dipersiapkan sedari dulu. Perbincangan dilanjutkan setelah mereka membayar nasi goreng dan beranjak pergi menuju taman. ‘Hei, ternyata aku kembali lagi.’ Bisiknya pada taman, bangku kuning yang sedari tadi membisu, dan dua burung yang sedari tadi tidak bosan saling bercumbu.
Dunia itu sebenarnya hanya perlu bukti. Bukan hanya ocehan-ocehan lelah, tanpa ada aksi sama sekali. Satu lagi, belajar dewasa itu tidak melulu mengerahkan semua suara ke khalayak, diam mengamati untuk memahami juga bagian dari proses pendewasaan. Tidak masalah, meski waktu sangat lama membuka pintu yang sebenarnya, yang didalamnya berisi kenyamanan hakiki untukmu. Sebab, pada akhirnya kamu akan tetap menemukan muara sesungguhnya, meski dalam pencapaiannya harus membuang waktu, membuat topeng yang pertama kamu kira tidak akan pernah jadi-jadi.
SELESAI..

Komentar
Posting Komentar