100 Tahun Indonesia Generasi Emas, atau Nahas?
Tahun 2045 digadang-gadang akan menjadi milik generasi emas oleh pemerintah Indonesia. Dengan alasan pada tahun 2030 demografi akan mencapai tingkat tertinggi, sehingga pemerintah optimis menciptakan cita-cita itu. Namun, tentunya masih banyak yang harus dibenahi dan diperbaharui oleh segala oknum secara serius.
Banyaknya masalah di Indonesia saat ini, baik itu tragedi receh yang mendatangkan malapetaka, sampai yang membuat geger satu Indonesia Raya, membuat tak sedikit masyarakat ragu akan terwujudkah cita-cita indah itu. Salah satu masalah yang kini semakin bergejolak dan tengah menjadi fokus penanganan pemerintah, yakni terkait dengan remaja yang kelak memegang kuasa generasi emas. Namun, belum juga ditemukan solusi yang sudah terealisasi seraca nyata. Memang telah banyak yang dilakukan pemerintah demi tercapainya generasi emas tahun 2045, dari pembangunan gedung sekolah yang mulai memperhatikan pelosok daerah, sampai peningkatan mutu PAUD. Disamping fasilitas, tentu saja kualitas pendidikan masih jauh dari target yang harus dicapai. Berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lant Prichett, Professor Universitas Harvard menyimpulkan bahwasanya butuh 128 tahun untuk pendidikan anak-anak di Jakarta agar bisa setara dengan negara-negara maju. Sementara itu belum meliputi kota-kota kecil. Padahal kabarnya, Menteri PPN berani berujar bahwa Indonesia bisa menjadi negara maju pada tahun 2038. Mewujudkan peralihan dari negara berkembang menuju negara maju bijaknya jangan sekadar dilihat dari satu aspek yang mana memang unggul di negara tersebut. Perlu dipikirkan hal mendasar, yakni mutu pendidikan yang semakin kacau dari tahun ke tahun. Namun, terlepas itu semua saya kira pemerintah justru melangkah terlalu jauh. Sementara beberapa pijakan dibelakangnya belum terinjak sama sekali, seperti solusi untuk mengubah kepribadian para remaja agar menjadi bermartabat serta bermanfaat. Buktinya masih banyak remaja, bahkan sudah merambak pada anak-anak yang semakin memprihatinkan. Remaja seumur jagung sudah mengenal kekerasan, kebebasan bergaul dengan lawan jenis, serta turun drastisnya budaya sopan santun yang sejatinya merupakan ciri dari Indonesia. Ironinya semua kepiawaian itu mereka dapatkan dari kecanggihan teknologi masa kini. Padahal semula tujuan dari teknologi sendiri ialah untuk membuat generasi zaman ini semakin pandai dan kritis. Namun, kenyataan yang ada sungguh miris. Sebab nyatanya justru hasil berbanding terbalik. Sebuah kebodohan yang mereka anggap sebagai dewa kepintaran (ketagihan gawai) kini menjadi masalah konkret yang membuat saya ragu, akankah generasi emas dapat digagas oleh kenyataan yang sudah jelas? Meski tidak dapat dipungkiri segelintir remaja telah mengharumkan nama bangsa.
Pernahkah para remaja berpikir, orang-orang dewasa kini seolah mengalihkan tanggung jawabnya kepada kalian karena mereka telah gagal dan tidak mampu dengan keadaan Indonesia yang kini semakin carut marut? Meski itu tidak selayaknya dipikirkan, tapi kenyataanya pikiran itu yang kini ada dalam benak saya. Saya mengerti bahwa pemerintah menginginkan Indonesia menjadi lebih baik di masa mendatang. “Generasi penerus bangsa harus lebih baik lagi”. Kalimat ini familiar dikalangan anak-anak Indonesia. Namun, tidakkah kalian sebagai remaja yang notabennya baru hidup seumur jagung terbebani dengan kalimat itu? Meski seseorang berada di masa penghujung remaja, kisaran umur 18-20 tahun tetap saja mereka hanya seorang anak yang belum banyak pengalaman hidup. Secara psikologis tentu saja akan cenderung derdampak menjadi suatu tekanan dibanding dengan sebuah harapan. Terlebih bagi remaja melankolis, yang seakan dituntut untuk berpendapat mengenai harapan bangsa. Bermodal ilmu yang tidak seberapa, seakan dipaksa unjuk suara dari suatu kasus di berita. Remaja yang saya maksudkan disini ialah mereka yang kurang banyak pengalaman dan selama hidup masih sekadar bermain, tanpa pernah terbiasa berpikir kritis layaknya orang dewasa. Berbeda halnya dengan remaja otak dewasa yang telah terbiasa dibebani dengan pikiran dan harapan kritis.
Wajar jika remajalah yang menjadi fokus, sebab mereka yang nanti akan memimpin Tanah Air mulai tahun 2045. Bila mana kedepannya belum juga terpecahkan solusi terkait masalah rusaknya remaja zaman kini, tahun 2045 tidak lagi tersebut menjadi milik para ‘generasi emas’, melainkan ‘generasi nahas’. Saya kira apabila generasi emas ini merupakan sebuah cita-cita, pemerintah dan segenap warga tanah air akan turut andil, tidak sekadar berdalil dalam perwujudannya agar tepat serta cepat. Para presidium daerah juga hendaknya turut turun tangan, dan bertindak tanpa pandang bulu. Berhubung memang banyak yang harus diperbaiki dari berbagai aspek. Terlebih waktu terus berlalu, dari awal rencana yaitu sekitar tahun 2012. Apabila tahun 2038 yang mana telah direncanakan bahwa Indonesia dapat berubah status menjadi negara maju, masih sekadar wacana tanpa wujud rupa, sudah saatnya generasi bertanya. Generasi emas tahun 2045 benar sebuah cita-cita, atau tebar pesona belaka?

Komentar
Posting Komentar